Capek Banget Sama Kata "Maaf"

 

Capek Banget Sama Kata "Maaf"


Gengs, jujur deh. Siapa di sini yang udah eneg banget denger kata "maaf"? Kayak... bosen aja gitu. Bukan, bukan berarti gue nggak mau dimaafin atau nggak mau maafin orang lain ya. Tapi, belakangan ini, kata "maaf" tuh rasanya jadi kayak permen karet yang udah hilang rasanya, tapi tetap aja dikunyah. Nggak ada feel-nya lagi.

Maaf yang Gampangan

Coba deh pikir. Berapa kali sih kita ngucapin atau denger kata maaf yang sebenernya cuma formalitas?

  • "Maaf ya, telat." (Padahal udah telat sejam dan ini udah yang ke-10 kalinya.)

  • "Maaf ya kalau kata-kata gue kasar." (Terus besok diulang lagi.)

  • "Maaf, kemarin nggak bales chat." (Padahal kelihatan online di mana-mana.)

Kata maaf itu kayaknya gampang banget diucapin, kayak cuma filter di Instagram yang tinggal tap buat nutupin muka aslinya. Masalahnya, abis ngucapin, tindakannya nol besar. Nggak ada perubahan, nggak ada usaha buat nggak ngulangin kesalahan yang sama.

Maaf Tanpa Tanggung Jawab

Buat gue, "maaf" yang bener itu harus ada gandengan tangannya, yaitu tanggung jawab.

Kayak gini lho: Kalau lu nabrak vas bunga kesayangan nyokap, lu nggak cuma bilang "Maaf, ya." Tapi lu juga harus bilang, "Maaf, ya, pecah. Gue ganti deh, besok gue cari yang mirip banget atau lebih bagus."

Intinya, jangan cuma cuci tangan pake kata maaf, tapi tunjukkin lu nyesel beneran dan lu mau beresin kekacauan yang udah lu buat. Kalau cuma "maaf" doang, itu namanya lepas tangan, bro. Itu cuma penenang buat diri sendiri, bukan buat orang yang lu sakitin.

Mendingan Diem dan Bertindak

Sumpah, kadang gue lebih respek sama orang yang nggak usah banyak ngomong maaf tapi langsung nunjukkin perubahan.

Misalnya, lu telat lagi, telat lagi. Daripada bilang "Maaf ya, gue telat lagi," mendingan besoknya lu datang 30 menit lebih awal tanpa perlu ba-bi-bu tentang maaf.

Action speak louder than words, kan? Ucapan maaf itu penting, sangat penting. Tapi kalau udah diulang terus, mendingan fokus ke perbaikan daripada ke permintaan maaf. Perbaikan itu effort, sementara maaf itu... ya, cuma dua suku kata.

Jadi guys, mulai sekarang, yuk kita sedikit pelit sama kata maaf. Bukan pelit dalam arti nggak mau minta maaf, tapi pelit dalam arti nggak gampang ngucapinnya tanpa ada tindak lanjut.

Coba deh kita jadiin kata maaf itu mahal. Cuma keluar pas kita bener-bener nyesel, dan pas kita udah siap buat nunjukkin kalau kita nggak akan ngulangin lagi. Biar kata maaf itu punya "bobot" lagi, nggak cuma jadi filler obrolan doang.

Gimana menurut lu? Setuju nggak nih sama gue? Komen di bawah ya!

Komentar